Bagi HTI, Pancasila Tidak Cukup Mengatur NKRI

0
617
SAMSUNG CAMERA PICTURES

Pustakacompass.com, Tangerang Selatan – Pancasila dalam pandangan HTI masih diselimuti  dengan tanda tanya. Menurut mereka pancasila hanyalah seperangkat pandangan filosofis yang tidak cukup untuk menata Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Hal ini disampaikan oleh cendekiawan muda NU, Sofiuddin, dalam diskusi dan launching bukunya berjudul “Gerakan Politik HTI, Mampukah Menjadi Gerakan Dakwah ?” terbitan Pustaka Compass, di Islam Nusantara Center (INC), Selasa, 13/06/17.

Sofiuddin menyebutkan “Jubir HTI pernah mengatakan HTI itu bagaimana mau dibubarkan, kenyataannya tidak bertentangan dengan pancasila. Ya bicara sekarang seperti itu, tapi coba dilihat dua-tiga tahun sebelumnya. Ternyata seringkali mereka mengatakan bahwa yang namanya pancasila di Indonesia adalah set of philosophy. Hanya nilai-nilai luhur yang di sini tidak cukup untuk menata sistem dan negara kita.”

“..yang bisa menerapkan set of philosophy adalah dengan cara menerapkan Syariah Islamiah. Syariah Islamiah ini tidak bisa diterapkan kecuali dengan HTI. Tidak akan sempurna dalam menerapkan set of philosophy ini kecuali menyerahkan kekuasaan kepada HTI.” Tambah Ketua Puslitbang dan dosen bidang Pemikiran Islam dan Civic Education di Sekolah Tinggi Kulliyatul Qur’an (STKQ) al-Hikam Depok ini.

Santri alm. KH. Hasyim Muzadi ini menerangkan bahwa sebenarnya HTI menolak Pancasila sebagai dasar negara  Indonesia secara tegas pada saat posisi HTI belum  mendapatkan tekanan dari pemerintah, sedangkan setelah adanya ketegasan pemerintah akan membubarkannya, HTI  berkilah bahwa organisasinya tidak bertentangan dengan  Pancasila apalagi menolaknya.

Acara launching ini juga mengundang beberapa pembicara untuk mendiskusikan isi buku setebal 192 halaman. Diantaranya adalah KH. Abdul Mun’in Dz (Wasekjend PBNU), Adung Abdullah (Sekjend PP. GP. Ansor), Ust. Hilmi al-Siddiqy al-‘Araqy (Staf Ahli Dewan Pertimbangan Presiden RI Bagian Sosial Keagamaan). Dan dimoderatori oleh wartawan senior NU Online, A. Khoirul Anam (Kandidat Doktor Pasca UIN Jakarta).

Pada gilirannya, Sekjend GP Ansor mengatakan “Kalau anda membaca buku ini, semuanya ditolak oleh HTI. Demokrasi ditolak, HAM ditolak, pluralisme ditolak, Pancasila ditolak, NKRI ditolak. Semua ditolak karena bukan Islam yang kaffah, tidak sesuai syariat. Padahal ada resolusi jihad, ada fatwa jihad dari KH Hasyim Asy’ari. Puluhan ribu senior kami, Ansor meninggal untuk memperjuangkan keberadaan NKRI. Dan itu dihukumi Syahid oleh Kiai Hasyim Asy’ari.”

Adung yang juga Senior PMII Ciputat ini menegaskan bahwa Ansor tetap menolak tegas dan berhadapan di garis paling depan dengan HTI. “Bagi kami, Gerakan Pemuda Ansor, yang ikut memperjuangkan dan mempertahankan bahwa Pancasila dan NKRI ini adalah hasil ijtihad para ulama dan mendasarkan itu semua pada Qur’an hadits serta turats. Maka tidak ada pilihan lain kami ini harus berhadap-hadapan dengan HTI.”, tegasnya.

Sedangkan Kiai Mun’im sebagai pelaku sejarah NU, menjelaskan bahwa NU sudah sejak awal mengkritik keras munculnya HTI. “Kita sudah sejak awal mendesak pemerintah untuk melarang HTI agar tidak berkembang. Saya tegas, harus dilarang” tandasnya.

Kiai Mun’in mencontohkan bagaimana politik KH. Wahab Hasbullah menghadapi DII dan PRRI. “Ketika Bung Karno masih ragu-ragu melarang DII, NU tidak, harus dilarang, diperangi. Ketika tentara bergerak, orang DII kita selamatkan. Begitu juga dengan PRRI, NU ini mengatakan ini Bughot, negara dalam negara, harus diperangi. Bung karno belum berani. Tapi kemudian Bung Karno sudah bergerak dengan tentaranya. Kita selamatkan orang-oranya. Menteri agama waktu itu menyuruh Kiai Muslih untuk datang ke Sumatra Barat mendampingi kelompok-kelompok yang terlibat dalam PRRI. Mereka dimasukkan pesantren-pesantren NU, sehingga selamat tidak ditumpas oleh tentara” jelasnya.

Menyikapi HTI juga harus seperti itu. Organisasinya mutlak harus dilarang, persoalan anggotanya akan lindungi, bagi NU ini prinsip.

Acara ini diselenggarakan atas kerjasama Penerbit Pustaka Compass dan Islam Nusantara Center (INC). Dihadiri oleh mahasiswa dan aktivis. Diakhir acara, semua peserta diskusi mendapatkan buku gratis dari penerbit. Kemudian dilanjutkan dengan buka bersama.(Aditia-Anw)

Comments

comments