Jika Bermotif Politik, GISS Ciderai Masjid

0
103

Gerakan Indonesia Shalat Subuh (GISS) ini merupakan gerakan positif. Memiliki misi membangkitkan shalat subuh berjamaah hingga melebihi jamaah shalat Jum’at. Gerakan yang dipimpin M. Alkhattat ini optimis pada tahun 2020 akan terwujud di seluruh Indonesia. Tapi akan menciderai ajaran Islam jika GISS dipolitisasi.

Robi Sugara Dosen FISIP UIN Jakarta menilai bahwa GISS ini nawaitunya bagus, tapi jika ada beberapa yang menciderai dengan melakukan kampanye politik praktis, jadi tidak bagus.

“GISS ini jika berhasil meluas ke seluruh Indonesia, akan menguntungkan elit politik tertentu. Ini persoalan taktik dan strategi politik para oplosan. GISS akan berdampak massif dan strategis dalam momen pilpres 2019,” tandasnya.

IMG-20180829-WA0068Hal ini diungkapkan oleh Dosen STAI Al Hikam Depok, Ust. Sofiudin, dalam diskusi publik yang bertema “Politisasi GISS, Menciderai Ajaran Islam” di Aula Lantai 2 Masjid Fatullah. Rabu, 29 Agustus 2018 yang diselenggarakan Ikatan Remaja Masjid Fathullah (Irmafa) dan INC.

Namun, lanjut Sofi, jika ada over penceramah yang mengarahkan dukungan atau manuver politik. “Yang menjadi problem adalah adanya over akting ketika suatu penceramah melakukan manuver politik dengan menyatakan dukungan politik kepada kelompok atau partai tertentu,” katanya.

“Saya melihat ada beberapa masjid, banyak penceramah yang mengarah pada dukungan tertentu, maka ini menciderai Islam dan tidak berakhlak,” jelas santri alm. KH Hasyim Muzadi ini.

Melihat sejarah nabi dan para sahabat, walaupun berbicara politik tapi tidak dijadikan ajang kampanye. Sehingga tidak masuk mengkampanyekan salah satu calon pemimpin yang bersifat politis.

Sofiudin mengaku, akan meneliti lebih jauh terkait GISS ini. Apakah benar-benar sebagai subjek yang melakukan politisasi, atau menjadi korban politisasi. Dibutuhkan banyak bukti dan fakta-fakta baru lagi.

Usai acara, para mahasiswa dan beberapa remaja masjid membaca pernyataan sikap terkait politisasi agama atau masjid: Pertama, Kami menolak politisasi agama melalui masjid seperti politisasi sholat shubuh berjama’ah. Ketiga, Kami  menyatakan Gerakan Indonesia Sholat Subuh Berjama’ah adalah sunnah, tapi jika untuk kepentingan politik itu mencederai kesucian masjid. Ketiga, Kami menyatakan Segala bentuk politik praktis di masjid tidak sesuai dengan ajaran Nabi, maka kami menolak adanya simbol-simbol tokoh atau partai apapun di masjid.

(AliM)

Comments

comments