Dicanangkannya Hari Santri Nasional, Memiliki Landasan Historis yang Kuat

0
168

Pustakacompass.com, Tulungagung – Dicanangkannya Hari Santri Nasional, memiliki landasan historis yang kuat. Perjuangan ulama-santri dalam memerdekakan bangsa ini tidak bisa lagi ditutupi oleh sejarah tunggal. Ini karena jaringan kiai-santri diseluruh Nusantara sangat kuat.

Hal ini dibuktikan Zainul Milal Bizawie dalam bukunya berjudul Masterpiece Islam Nusantara yang dibedah di Kantor PCNU Tulungagung Jawa Timur. Kamis, (05/10).

Dicanangkannya Hari Santri Nasional, Zainul Milal Bizawie menilai itu sangat tepat. “Karena memiliki landasan historis yang kuat dan gerakannya sangat berperan besar bagi bangsa Indonesia. Sejarah bangsa Indonesia ini tidak putus.”, ujarnya.

Dalam sejarahnya, lanjut Milal, Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari dan santri adalah pengawal Proklamasi Kemerdekaan RI. “Karena saat itu Laskar Hizbullah masih solid, disaat belum terbentuk TNI.”, imbuhnya.

Ketika Belanda ingin memecah Indonesia menjadi negara-negara federal. Ditolak oleh rakyat dan masyarakat santri. Dan NKRI adalah bentuk kristalisasi perjuangan para Ulama. “Buku ini ingin mengatakan bahwa Pancasila dan NKRI adalah Masterpiece Islam Nusantara, ulama-ulama Nusantara.”, tandas sejarawan santri yang juga penulis “Laskar Ulama-Santri & Resolusi Jihad” ini.

Selain buku Masterpiece, buku Mahakarya Islam Nusantara karya A. Ginanjar Sya’ban juga dibedah secara bersamaan. Ginanjar mengawali dengan mengajak santri bersyukur.

Ia mengatakan “diantaranya nikmat terbesar setelah Islam dan Iman adalah kita dilahirkan dan hidup menjadi bagian dari santri.”, tandasnya.

“Kalau bukan karena adanya santri, mustahil Indonesia itu berdiri tegak seperti sekarang ini. Karena santri lah yang memerdekakan bangsa ini, dan santrilah yang merumuskan prinsip berdirinya NKRI.”, imbuh alumni Pesantren Lirboyo ini.

Selain menjadi pejuang, lanjut Ginanjar, Ulama-Santri Nusantara juga menjadi mersucuar dan menara peradaban Islam tidak hanya di Nusantara, bahkan dunia.

“Karena itu santri penting belajar Ilmu filologi atau tahqiq turats agar bisa membuka peti harta karun keilmuan Ulama Nusantara.”, pungkasnya.

Terakhir, sebagai pembanding, Muntahibun Nafis, mengatakan bahwa sanad keilmuan harus kita jaga betul. “..yang saya temukan dalam bukunya Gus Milal adalah bahwa sanad keilmuan menjadi kunci utama, khususnya di dunia Pesantren.”, katanya.

“Diksi di bukunya Gus Milal ini sangat menarik. Bahasanya mudah dipahami.” imbuhnya.

Sebelum membaca dua karya ini, saya bertawasul lebih dahulu. Saya didatengi ulama yang belum jelas siapa beliau.

Menurut Nafis, dalam sebuah karya yang membahas sejarah, fungsinya adalah melestarikan identitas kelompok. Kedua buku ini menunjukkan identitas Ulama Nusantara.

“Saya berharap kedua buku ini menjadi inspirasi kita semua. Dan ditindak lanjuti oleh penulis. Dibingkai dalam pandangan dan otokritik.”, pungkas dosen IAIN Tulungagung ini.

Bedah buku di PCNU Tulungagung, dihadiri oleh sekitar 300 peserta
Bedah buku di PCNU Tulungagung, dihadiri oleh sekitar 300 peserta

Dengan adanya bedah buku ini, Mustofa berharap, anak muda harus tahu perjuangan para tokoh NU. “Mudah-mudahan nanti menjadi penerus tokoh NU dimasa mendatang.”, ujarnya.

Para pembicara dan pembanding dalam bedah buku di PCNU Tulungagung Jawa Timur
Para pembicara dan pembanding dalam bedah buku di PCNU Tulungagung Jawa Timur

Acara bedah buku ini diselenggarakan oleh RMI PCNU Tulungagung dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional. Hadir juga KH. Bagus Ahmadi (Wakil Ketua NU Tulungagung), M. Muntahibun Nafismbuh alumni Pesantren Lirboyo ini.

Acara ini merupakan bagian dari rangkaian Road Show bedah buku “Mahakarya Islam Nusantara” bersama A. Ginanjar Sya’ban dan Zainul Milal Bizawie, di 12 titik Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Beberapa kampus dan pesantren yang dikunjungi antara lain UIN Maliki Malang, UINSA Surabaya dan STAI Al-Fitrah, PP HM Mahrusiyyah Lirboyo Kediri, IAIN Surakarta, PP. Salafiyah Kajen Pati, STIBI Syekh Jangkung Pati, STAIN Kudus, Universitas Semarang, dan PP. Ashabul Kahfi Kendal.(Taufiq).

Comments

comments