Diskusi Buku di STISNU : Mari Kenali Warisan Ulama Nusantara

0
418

Mengawali Road Show Diskusi Buku “Mahakarya Islam Nusantara”, Penerbit Pustaka Compass memilih Kampus STISNU Nusantara Tangerang sebagai titik awal di wilayah Jabodetabek, pada hari Kamis, 21 Desember 2017.

Dalam diskusi tersebut, A. Ginanjar Sya’ban sebagai penulis buku kembali menjelaskan bahwa istilah Islam Nusantara adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan sejarah peradaban Islam di Nusantara. Termasuk semua unsur di dalamnya.

“Bagaimana sejarah kebesaran Islam di Nusantara, siapa saja ulamanya, apa saja karya-karya ulamanya, bagaimana sejarah politik kesultanan-kesultanan di Nusantara,” terang Ginanjar.

Sebagaimana istilah Islam Andalus, menurut Ginanjar, artinya juga menggambar bagaimana megahnya peradaban Islam. Ia mengatakan “untuk meringkas sejarah besar Islam di Andalusia, di mana di dalamnya terdapat peradaban, bangunan-bangunan kejayaan Islam, karya peninggalan keilmuan, ini dinamakan Islam Andalus.”

Diskusi ini juga dihadiri oleh Zainul Milal Bizawie (penulis buku Masterpiece Islam Nusantara), Fahmi Irfani, MA, Hum. (Akademisi STISNU Nusantara) dan Ecep Ishak Fariduddin, MA sebagai moderator.

Tampil di awal, Zainul Milal Bizawie menyinggung tentang pentingnya mengkaji naskah-naskah peninggalan Ulama Nusantara. Karena peninggalan itu tidak akan berharga jiga tidak diteliti.

“Pentingnya mengkaji adalah agar naskah-maskah karya Ulama Nusantara memiliki nilai dan bermakna, terlebih bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.

Menurut sejarawan yang akrab disapa Gus Milal ini, Islam Nusantara memiliki fiqih kebangsaan yang perlu diangkat. Dari sini akan bisa dipahami mengapa para ulama terhadahulu mengajarkan cinta tanah air dan kebangsaan yang kuat.

Sedangkan Fahmi Irfani, melihat buku “Mahakarya Islam Nusantara” sebagai pencerahan bagi dunia Islam. “Buku ini membuka mata kita, bahwa ternyata ulama-ulama Nusantara memiliki peran besar dalam pembangunan khazanah keilmuan Islam,” katanya.

Lebih lanjut, dosen STISNU ini mrngatakan bahwa Mahakarya Islam Nusantara mempunyai kontribusi besar dalam mengangkat karya yang tidak dikenal. “Kang Ginanjar juga mengangkat fakta-fakta sejarah tentang Ulama Nusantara,” tandasnya.

“Membaca buku ini anda dapat bernostalgia sejarah keilmuan ulama Nusantara. Nostalgia yang bisa dijadikan panduan untuk masa depan,” pungkasnya.

Informasi dari Penerbit Pustaka Compass, ada banyak kampus, madrasah dan pesantren yang akan dikunjungi. Ini adalah bagian dari upaya kecil dalam mengenalkan kekayaan warisan Ulama Nusantara. (Ridho).

Comments

comments