Indonesia Raya Berkumandang di Pesantren

0
252
KH. Abdul Mun'im Dz dalam launching buku karyanya, "Fragmen Sejarah NU, Menyambung Akar Budaya" (16/03/17)

“Setiap hari, menjelang pengajian, seluruh santri pesantren Tebuireng Jombang bersama para ustaz menyanyikan lagu Indonesia raya dengan hikmat. Kebiasan yang berjalan sejak 1935-an” – Kiai Abdul Mun’im Dz

Bagi Belanda, mengucapkan istilah Indonesia saja, sudah merupakan kategori subversif, penggunanya bisa ditangkap menurut undang undang kolonial. Tetapi ketika menjelang kemerdekaan Soekarno telah mengutus para komponis untuk menciptakan lagu kebangsaan. Akhirnya karya komponis muda WR Soepratman berjudul Indonesia Raya yang dipilih sebagai lagu kebangsaan, karena benar-benar mewakili filosofi bangsa ini dan memiliki heroisme sebagaimana yang dibutuhkan.

Tetapi ingat, saat lagu itu digubah, masih zaman kolonial, maka lagu kebangsan itu dilarang. Tetapi karena itu sebuah tuntutan dan harapan, maka secara diam-diam dipelajari dan menyebar ke seluruh lapisan masyarakat, tidak terkecuali kalangan pesantren yang saat itu merupakan basis perlawanan terhadap kolonial. Lagu kebangsaan itu dengana sendirinya sangat popular di kalangan ustadz dan santri. Tidak hanya menghibur, tetapi juga mampu menggugah spirit perjuangan.

Setiap hari, menjelang pengajian, seluruh santri pesantren Tebuireng Jombang bersama para ustaz menyanyikan lagu Indonesia raya dengan hikmat. Kebiasan yang berjalan sejak 1935-an, bukan perintah dari Kiai Hasyim Asy’ari, tetapi ia membenarkan langkah para santri itu. Toh mereka belajar sendiri dan menyayikan sendiri secara spontan. Lagi pula berguna untuk memperkuat integritas kebangsaan dan semanagat perjuangan. Tentu saja langkah subversif itu segera mendapat sorotan dari pemerintah kolonial, teguran pun dilayangkan pada sang Kiai.

Karena tidak mungkin bagi Kiai Hasyim untuk menghentikan dinamika perjuangan kaum muda itu, maka kebiasaan tersebut dibiarkan. Apalagi pesantren besar itu telah berpengalaman dalam menghadapi serangan Belanda, dibakar pada tahun 1914, selain itu juga banyak diganggu kegiatannya. Maka ketika mendapat teguran dari Belanda, pesantren itu tetap menjalankan kegiatannya, karena dinilai sangat berguna.

Melihat keteguhan sikap pesantren itu Belanda tidak berhenti mengintai pesantren tersebut, berbagai gangguan dan ancaman dilakukan. Tetapi pesantren dengan pimpinan kiai kharismatik itu tetap berjuang melakukan perlawanan.

Sumber : Abdul Mun’im Dz, “Fragmen Sejarah NU, Menyambung Akar Budaya Nusantara”, (Pustaka Compass, Tangeran Selatan, 2016) Hlm. 305-306

Comments

comments