Jelajah Nusantara : Siapa Nyai Bagelen Purworejo ?

0
94

Nama Nyai Bagelen adalah tokoh yang sudah tak asing bagi masyarakat kota Purworejo. Dialah yang disebut sebagai tokoh yang menurunkan orang-orang di Bagelen. Kata Bagelen itu sendiri merupakan nama lain dari Purworejo. Menurut yang empunya cerita, Bagelen dulu berbunyi Pagelen. Sedang Pagelen merupakan perubahan dari Medang dan Gele. Medang Gele itu sendiri berasal dari kata Medang Kamulan, sebuah kerajaan, tempat asal usul Nyai Bagelen.

Menurut informasi dari Zainul Milal Bizawie, petilasan Nyai Bagelen itu terawat dengan baik. “Setiap peziarah yang datang, akan disambut oleh kuncen resmi berseragam keraton”, kata pria yang akrab disapa Gus Milal ini.

DSC03356

Komplek tempat keramat ini, lanjut Gus Milal, terdiri dari petilasan yang dikelilingi kain batik, beratap seperti joglo dan terasnya tersambung dengan aula joglo yang lebih besar. “Tempatnya juga bersih, halaman komplek yang beratap pohon-pohon selalu disapu,” katanya.

Gus Milal yang juga seorang sejarawan dari kalangan santri ini, berkunjung ke tempat petilasan ini dalam rangka “jelajah nusantara”. Ia tidak hanya melakukan doa seperti para peziarah. Tapi juga berdialog dengan kuncen makam sebagai salah satu sumber informasi sejarah.

Gus Milal disambut oleh pak Wardiman sebagai petugas juru kunci hari itu. Memasuki makam, Pak Wardiman membuka kunci dengan jongkok sampai membuka pintu lalu melafalkan sesuatu. Mungkin sebagai tanda “salam”.

DSC03358
Gus Milal bersama Pak Wardiman (Kuncen Petilasan Nyai Bagelen)

Mengikuti aturan “protokoler”, Gus Milal masuk makam dengan cara jalan jongkok layaknya menghadap raja. Hal ini memang biasa dilakukan di makam orang-orang keraton. Lalu berdoa seperti para peziarah pada umumnya.

Usai ziarah, ia berdialog ringan dengan kuncen pak Wardiman sambil duduk di depan pintu. Mendengarkan penuturan sejarah dari sudut pandang kuncen. Tentu penuturan itu resmi dan disampaikan secara turum menurun.

Siapa Nyai Bagelen?

Kisahnya zaman dahulu, di daerah Begelen adalah sebuah kerajaan Medang Kamulan yang diperintah oleh seorang raja bernama Sri Prabu Kandiawan. Beliau tak hanya berkuasa di daerah Begelen saja. tapi juga meliputi Jepara, Tumapel dan sekitarnya. Baginda raja mempunyai 5 orang putra. Yang sulung bernama Sri Panuwun. Ia diberi kepercayaan oleh Baginda untuk mengatur bidang pertanian yang berkedudukan di Medang Gele (Pagelen). Anak kedua bemama Sri Sandang Garba yang berkedudukan di Jepara. Ia diberi tugas untuk mengatur bidang perdagangan. Anak ketiga bernama Sri Kalungkala yang bertugas mengatur bidang pertahanan.

Sri Prabu menikah dengan putri dari Kiai Somodangu. Perkawinan ini kemudian lahirlah seorang putri yang diberi nama Rara Bang Wetan. yang setelah dewasa menjadi Nyai Ageng Bagelen. Nyai Begelen ini lalu menikah dengan Prabu Awu-Awu Langit dan diboyong ke Ngombel (Grabag Kutoarjo) karena suaminya itu berkedudukan di daerah tersebut. Dari Ngombel mereka berdua lalu pindah ke Hargopuro (atau Hargorejo sekarang).

Suami Nyai Begelen ini kemudian menduduki tahta kerajaan setelah sang raja wafat. Setelah menjadi raja. Prabu Awu-Awu Langit bergelar Sri Prabu Joko Panuwun. Bersama dengan Nyai Begelen. beliau memerintah kerajaan dengan adil dan bijaksana. Bidang pertanian diatur sendiri oleh sang raja. Sedangkan istrinya mengurus bidang industri dan pertenunan.

Daerah Bagelen menjadi terkenal karena hasil pertaniannya. Terutama kedelai dan ketan ungu hitam (ketan wulung).

Sri Prabu Joko Panuwun dianugerahi 3 orang anak. Yang sulung laki laki. diberi nama Raden Bagus Gento. Anak kedua dan ketiga adalah perempuan. Raden Rara Taker dan Raden Rara Fitrah. Keduanya mirip satu lain. baik wajah maupun tingkah lakunya sehingga seperti anak kembar layaknya. Nyai Bagelen sangat sayang pada kedua putrinya ini. Kisah legenda masyarakat, kedua anaknya tersebut meninggal tertimpa lumbung padi.

Bagi masyarakat setempat, kisah Nyai Bagelen sudah menjadi inspirasi hikmah tersendiri.

Konon, Bupati Purworejo yang pertama dulu yang bernama Sugeng bahkan pernah bertemu secara gaib dengan Nyai Bagelen. Kepada Bupati Sugeng, Nyai Bagelen berpesan agar batu tiang masjid (umpak. bahasa Jawa) yang terletak di masiid Kauman dipindahkan ke Bagelen. Selain ltu. ia juga minta dibuatkan rumah rumahan untuk berziarah bagi anak cucunya.

Sejak itu umpak tersebut dianggap sebagai kuburan Nyai Bagelen. Tempat itu sekarang men|adi tempat keramat dan selalu dijaga dan dirawat dengan baik. Setiap Jumat kliwon dan Selasa kliwon banyak orang berziarah ke sana. apalagi bulan Sura.

Legenda ini mengajarkan kepada kita agar kita janganlah menganggap remeh segala sesuatu. Karena Awu-awu Langit terlalu memikirkan pekenaan. ia tak peduli lagi pada keselamatan kedua putrinya. Akhirnya, bencana yang tak diinginkan pun terjadi. (Ridho).

Comments

comments