KHR Asnawi dan Narasi Sejarah Satu Abad Madrasah Qudsiyyah Kudus

0
896

Penulisan buku “KHR. Asnawi, Satu Abad Qudsiyyah” adalah apresiasi besar dari para santri dalam rangka istiqomah menjaga kearifan Islam di Nusantara.

cover-khr-asnawi-qudsiyyah

Judul Buku : KHR. Asnawi, Satu Abad Qudsiyyah : Jejak Kiprah Santri Menara
Penulis : H.M. Ihsan, dkk.
Penerbit : Pustaka Compass, 2016.
Tebal : xxvii + 246 halaman
Ukuran : 15 x 25 cm
ISBN : 978-602-60637-0-1
Harga : Rp. 65.000,-

KHR Asnawi dan Narasi Sejarah Satu Abad Madrasah Qudsiyyah Kudus

Madrasah Qudsiyyah Menara Kudus merupakan madrasah salaf yang didirikan KHR Asnawi, resmi berdiri pada tahun 1337 H/1919 M. Madrasah yang tahun ini, usianya telah mencapai 100 tahun,  berhasil diperingati dengan berbagai rangkai kegiatan positif yang membangkitkan semangat perjuangan kaum santri untuk agama, bangsa dan negara.

Memperingati sebuah perjuangan panjang melalui pendidikan tidak cukup hanya dengan mengadakan peringatan yang bersifat seremonial. Tapi mendokumenasikan sejarahnya, akan memberikan nilai dan apresiasi yang berbeda.

Tidak mudah menuliskan sebuah epos perjalanan madrasah yang memasuki  usia 100 tahun, namun bukan pula hal yang mustahil. Buku berjudul “KHR. Asnawi, Satu Abad Qudsiyyah : Jejak Kiprah Santri Menara” telah membuktikanya.

Dokumentasi yang menarasikan tentang tumbuh kembangnya madrasah di Indonesia masih sangat terbatas. Diantaranya adalah madrasah Pabelan magelang, Jawa Tengah dan madrasah Matholi’ul Falah, Kajen, Pati, Jawa Tengah (hlm.49). Buku ini, dengan tokoh sentralnya – KHR. Asnawi – dapat melengkapi dan mempunyai semangat sama dalam menghadirkan sejarah dalam rentang waktu yang cukup lama.

Sejarah, Konteks dan Relevansi

Konteks dan relevansi penulisan sejarah, merupakan sebuah keniscayaan. Apa latar belakang dan manfaat serta pengaruhnya dalam masa sekarang ini.

Membaca lembar-lembar buku ini, sangat terasa bagaimana semangat para penulisnya menghadirkan sejarah kiprah KHR. Asnawi dan keberhasilan mendirikan sebuah institusi pendidikan agama (madrasah) serta tranformasi nilai-nilai Islam. Ini adalah sebuah perlawanan kultural pendidikan di tengah-tengah kolonialisme yang kuat pada masa itu.

Kala kembali di Kudus, Kiai Asnawi “disambut” dengan kondisi ekonomi, sosial dan keagamaan yang penuh dinamika. Terjadi gerakan “pemurnian Islam” dan gelombang persaingan dagang dengan orang-orang cina. Mengatasi itu, KH Asnawi menempuh strategi dengan menyiapkan sebuah pelembagaan keilmuan dalam balutan ahlussunah wal jamaah yang diawali dengan forum  pembelajaran di Masjid Menara.(hlm.42)

Pendirian Madrasah Qudsiyyah pada kurun 1900-an adalah salah satu tonggak sejarah pendidikan Islam di Kudus, bahkan di wilayah Nusantara yang memiliki ciri penting dengan model pendidikan anti kolonial. Contohnya, madrasah ini menolak memakai kata “school”, sebuah resistensi terhadap sistem pendidikan sekuler (hlm.44).

Diskriminasi pendidikan dan kebijakan ordonansi guru tahun 1923 oleh pemerintah Belanda, tidak membuat Madrasah Qudsiyyah mundur. Hal ini menjadi embrio perlawanan sampai masa kemerdekaan mendatang.

Dari penjelasan tersebut, buku ini mencoba mengajukan sebuah argumen bahwa Madrasah dengan karakternya mempunyai daya tahan kuat dan mampu beradaptasi dengan perubahan dan perkembangan zaman, dari masa penjajahan sampai era reformasi.

Buku yang ditulis oleh tujuh orang alumni Qudsiyyah ini (H.M. Ihsan, M. Zainal Anwar, M. Rikza Chamami, Makrus Ali, Khasan Ubaidillah, Syaifullah Amin, Furqon Ulya Himawan) menemukan konteks dan relevansinya karena sekarang ini dunia Islam sedang menjadi sorotan. Berbagai aksi kelompok Islam radikal, berbanding dengan gerakan kultural Islam di Indonesia yang ditampilkan oleh madrasah dan pesantren.

Dalam konteks tersebut, kehadirin buku ini sejatinya berikhtiar menjawab “kecurigaan” dan berbagai persepsi “miring” tentang madrasah.  Dan di Indonesia, madrasah adalah bagian penting dari sistem pendidikan yang pro terhadap cinta kebangsaan dan memperkenalkan Islam yang damai.

Menjaga khazanah Keilmuan dan Silaturahmi Ulama-Santri

Tradisi keilmuan dan keagamaan yang dibangun oleh KHR. Asnawi dan dilestarikan oleh para penerusnya merupakan kelanjutan dalam upaya menjaga warisan mulia dari Walisongo, dalam hal ini adalah Sunan Kudus atau Syekh Ja’far Shodiq. Dengan ajarannya yang terkenal “Gusjigang” , mempunyai makna berakhlak bagus, pintar ngaji dan pintar dagang.

Tema Satu Abad Madrasah Qudsiyyah, selain tentang KHR Asnawi sebagai perintis, juga mengenalkan para guru-kiai yang berjasa dalam mengembangkan madrasah ini. Diantaranya adalah KH Yahya Arief, KH. Ma’ruf Asnawi, KH. M. Ma’ruf Irsyad dan KH. M. Sya’roni Achmadi.

Penulisan buku ini adalah apresiasi besar dari para santri dalam rangka istiqomah menjaga kearifan Islam di Nusantara. Mereka menuliskan sejarahnya sendiri dan mengenang perjuangan para guru dan kiainya. Menjaga jaringan dan sanad keilmuan ulama-santri. Inilah yang menjadi modal besar dalam mempertahankan bangsa dan negeri ini.

Oleh : Madan bin Abdul Muid (Alumni Madrasah I’anatut Thalibin Cebolek-Pati)

Comments

comments