“Mahakarya Islam Nusantara” Ditulis untuk Menguri-uri Warisan Ulama

0
141

Pustakacompass.com, Semarang – Buku “Mahakarya Islam Nusantara” ditulis tiada lain adalah sebagai upaya menguri-uri warisan ulama Nusantara. Sebagaimana dikatakan Ajengan Ginanjar Sya’ban dalam Road Show bedah buku Mahakarya Islam Nusantara di Ruang Sidang Universitas Semarang. Semarang. Ahad, (08/10).

Ajengan Ginanjar mengatakan “Dengan Istilah Islam Nusantara ini, kita tidak bermaksud membuat istilah baru. Yang ingin kita lakukan adalah menguri-uri, meneliti dan melestarikan warisan ulama-ulama Nusantara dan karyanya.”

Selain itu, lanjutnya, generasi sekarang cenderung abay, tidak punya perhatian terhadap sumber-sumber sejarah. Dan tidak peduli dengan sejarahnya sendiri. Sehingga mengakibatkan tiga hal, antara lain :

Pertama, Ada banyak pihak yang secara terang-terangan mengatakan bahwa walisongo itu mitos. Makamnya bohongan, hanya ingin melakukan praktek bidah dan bisnis. Kedua, Islam Nusantara dituduh sebagai Islam pinggiran. Kuno, klenik, tidak punya karya.

Ketiga, akhirnya karena kita tidak peduli, yang meneliti kekayaan peradaban Islam Nusantara orang-orang Barat, orientalis. Padahal ulama-ulama Nusantara dari zaman walisongo itu memiliki karya ribuan yang tidak ternilai. Tapi kita tidak tahu. Bagaimana hubungan dan peran keilmuan dalam dunia Islam.

Acara yang diselenggarakan atas kerjasama Forum Komunikasi Mahasiswa Islam (FOKMI) Universitas Semarang ini juga dihadiri oleh Zainul Milal Bizawie, Ust Syaiful dan Muhammad Ikhwan sebagai moderator.

Menguatkan uraian Ajengan Ginanjar, Gus Milal Bizawie mengajak untuk lebih mengenal sejarah perjuangan para pendahulu. Dan menjelaskan kenapa memilih USM sebagai salah satu titik Road Show. “Mengapa bedah buku ini dibedah di sini, mengapa di bedah di Universitas Semarang?”, tanyanya.

“Semarang ini salah satu sumber peninggalan sejarah dan keilmuan Ulama Nusantara. Dan menjadi salah satu pertemuan simpul perlawanan terhadap penjajah”, kata penulis Masterpiece Islam Nusantara ini.

Sanad keilmuan Ulama Nusantara itu tersambung. Dari jalur walisongo yang tersebut di wilayah jalur Selatan itu tersambung ke Sunan Bayat.

Gus Milal mengatakan “Ulama dulu itu bersilaturahmi, Ulama walisongo itu juga memiliki jalur keilmuan di Timur Tengah. Tidak membangun paham sendiri. Walisongo itu mentransformasi keilmuan Islam dengan kontektualisasi di wilayah Nusantara.”

Perjuangan Ulama tidak terus melakukan perlawanan kepada kekuasaan yang tidak berpihak pada masyarakat. Perlawanan ini konsisten dilakukan berhadapan dengan kolonial belanda. Hingga pecah perang Jawa Pangeran Diponegoro dan perang kemerdekaan RI.

Setelah perang jawa, perjuangan perlawanan tidak berhenti. Ulama-ulama tersebar di seluruh Nusantara dan Timur tengah menuntut ilmu, membina masyarakat sekaligus konsolidasi silaturahmi. “Pecah kemerdekaan itu yang bergerak ya para santri.”, katanya.

Lalu dimana kita menemukan dokumentasi sejarah ini? Dimana kita menemukan pemikiran, ideologi keilmuan Ulama Nusantara? Tugas kita menggali sejarah dan warisan peradaban tersebut.

Universitas Semarang merupakan titik ke 11 dalam rangkaian Road Show “Mahakarya Islam Nusantara” Jawa Tengah – Jawa Timur. Puncaknya akan diselenggarakan di Pondok Pesantren Askhabul Kahfi Kendal pada Senin malam, 9 Oktober.

Sedangkan 10 titik yang telah dikunjungi antara lain UIN Maliki Malang, UINSA Surabaya, STAI Al-Fitrah, PC. RMI NU Tulungagung, PP HM Mahrusiyyah Lirboyo Kediri, IAIN Surakarta, PP. Salafiyah Kajen Pati, dan STIBI Syekh Jangkung Kayen Pati.(Aditia).

Comments

comments