Negara Pancasila VS Negara Islam : Sebuah Ijtihad Politik Ulama Nusantara

0
561

“tolok ukur minimal “negara Islam” adalah bisa dilaksanakan Syari’at Islam dalam suatu negara dengan aman, tanpa mempertimbangkan mayoritas penduduknya beragama Islam dan pemimpin negaranya beragama Islam atau tidak…”

“NEGARA PANCASILA  VS NEGARA ISLAM”
Sebuah Ijtihad Politik Ulama Nusantara
Oleh : ABDULLAH UBAID, MA*
(Dosen STAINU Jakarta
dan Peneliti Lakpesdam PBNU)

Negara-bangsa (nation-state) merupakan kenyataan sejarah yang tidak bisa dihindari oleh bangsa manapun, termasuk Indonesia. Selain karena tuntutan global, negara-bangsa merupakan konsep negara modern yang menjanjikan penyelesaian bagi setiap bangsa dalam menghadapi kenyataan pluralisme.

Tidak ada konsensus kualifikasi dan kriteria negara Islam.
Ketidaksepakatan itu disebabkan:

[1] Negara yang didirikan oleh Nabi di Madinah yang dipandang ideal itu ternyata tidak memberikan model yang terperinci;

[2] Pelaksanaan khilafah pada masa Bani Umayyah dan Bani Abbasiyah hanya memberikan satu kerangka mengenai lembaga-lembaga politik dan perpajakan;

[3] Pembahasan mengenai rumusan ideal (teori politik Islam) hanya menghasilkan rumusan idealis dari suatu masyarakat yang kadang utopian;

[4] Hubungan agama dan negara dari masa ke masa hanya menjadi subyek bagi keragaman interpretasi.

PERDEBATAN RELASI AGAMA DAN NEGARA DI INDONESIA – Penyusunan UUD 1945
Piagam Jakarta – UUD Negara 1945

Relasi agama vis-a-vis negara, atau Islam vis-a-vis Pancasila, sudah selesai dalam Keputusan Muktamar NU ke-27 di Situbondo pada 8-12 Desember 1984.
Muktamar itu mengukuhkan keputusan Musyawarah Alim Ulama Nasional NU 1983 yang memutuskan untuk menerima Pancasila sebagai satu-satunya asas, dan mengakui negara Pancasila sebagai bentuk final.

RAGAM KONSEP “DAR AL-ISLAM”

Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan identitas suatu negara untuk bisa dikategorikan sebagai Dâr al-Islâm. Sebagian ulama melihat dari sudut hukum yang berlaku di negara tersebut. Sebagian lain ada yang melihat dari sisi keamanan warganya dalam menjalankan Syari’at Islam. Ada juga yang melihat dari sisi pemegang kekuasaan negara tersebut.

Imam Abu Yusuf (w. 182 H.), tokoh besar madzhab Hanafi:
Suatu negara dapat disebut sebagai dâr al-Islâm apabila di dalamnya telah berlaku hukum Islam, meskipun mayoritas warganya bukan Muslim.
Dâr al-harb adalah negara yang tidak memberlakukan hukum Islam, meskipun sebagian besar penduduknya beragama Islam.

Al-Kisani (w. 587 H.), juga ahli fqih madzhab Hanafi: Dâr al-harb bisa menjadi dâr al-Islâm apabila negara tersebut memberlakukan hukum Islam. al-Sarkhasi, al-Mabsûth, (Bairut: Dar al-Ma’rifah, tt.), Juz 10, hlm. 144.

Sayyid Quthb (w. 1387 H.), tokoh gerakan Islam al-Ikhwân al-Muslimîn:
Negara yang menerapkan hukum Islam dapat disebut sebagai dâr al-Islâm, tanpa mensyaratkan penduduknya harus Muslim atau bercampur baur dengan ahl al-dzimmi. Sayyid Qutub, Fiy Dhilâl al-Qur’ân, (Beirut: Dar al-Syuruq, tt.), Jilid II, hlm. 874.

Al-Rafi’i (w. 623 H.), tokoh fiqh madzhab Syafi’i:
Alat ukur untuk menentukan apakah sebuah negara disebut dâr al-Islâm atau dâr al-harb dengan mempertimbangkan agama para pemegang kekuasaan dalam negara tersebut.
Suatu negara dipandang sebagai dâr al-Islâm apabila dipimpin oleh seorang Muslim, demikian sebaliknya.

Imam Abu Hanifah (80-150 H.):
Membedakan dâr al-Islâm dan dâr al-harb berdasarkan RASA AMAN yang dinikmati oleh penduduknya yang beragama Islam.
Apabila umat Islam merasa aman dalam menjalankan aktifitas keagamaanya, negara tersebut termasuk kategori dâr al-Islâm.
Apabila tidak ada rasa aman untuk umat Islam, negara itu masuk dalam kategori dâr al-harb. Wahbah al-Zuhaili , Atsar al-Harb fiy al-Fiqh al-Islâmy, (Syria: Dar al-Fikr, t.th.), hlm. 56.

Ibn Qayyim al-Jawziyah (w. 751 H.):
Dâr al-Islâm adalah negara yang wilayahnya didiami oleh (mayoritas) umat Islam dan hukum yang berlaku di negara tersebut adalah hukum Islam. Apabila kedua unsur ini tidak terpenuhi, negara itu bukan dâr al-Islâm. Ibn al-Qayyim Al-Jauziyah, Ahkâm Ahl al-Dzimmah, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, t.th.), Jilid I, hlm. 226.

Apabila berbagai tolok ukur ini digabungkan secara KUMULATIF:
Dâr al-Islâm adalah negara yang dihuni oleh mayoritas umat Islam, dipimpin oleh orang Islam, dan di dalamnya diberlakukan Syari’at Islam secara aman.

Javid Iqbal dalam The Concept of State in Islam: Dâr al-Islâm adalah negara yang pemerintahannya dipegang oleh umat Islam, mayoritas penduduknya beragama Islam, dan undang-undangnya menggunakan hukum Islam. “The Concept of State in Islam” dalam Mumtaz Ahmad, ed. State, Politics and Islam, (Washington: American Trust Publication, 1986), hlm. 38.

DENGAN DEMIKIAN , tolok ukur minimal “negara Islam” adalah bisa dilaksanakan Syari’at Islam dalam suatu negara dengan aman, tanpa mempertimbangkan mayoritas penduduknya beragama Islam dan pemimpin negaranya beragama Islam atau tidak.

Keamanan menjalankan Syari’at Islam tidak mesti berhubungan dengan agama yang dianut oleh kepala negara mayoritas agama penduduknya. Syari’at Islam bisa saja dilaksanakan di suatu wilayah yang dipimpin oleh kepala negara yang non-Muslim.
Suatu wilayah bisa disebut dâr al-Islâm meskipun tidak dipimpin oleh orang Islam sepanjang Syari’at Islam bisa dijalankan dengan aman.

SERING DITANYAKAN
Bagaimana nalar teologis dan politik Nahdlatul Ulama tentang penerimaan total negara Pancasila sebagai bentuk final dalam kehidupan berbangsa dan bernegara?

TONGGAK SEJARAH
Keputusan paradigmatik penerimaan NU atas Pancasila dan keberadaan negara-bangsa dikenal dengan “Deklarasi tentang Hubungan Pancasila dengan Islam”.

NALAR POLITIK NU
Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara Republik Indonesia bukanlah agama, dan tidak dapat menggantikan agama dan tidak dapat dipergunakan untuk menggantikan kedudukan agama.
Sila Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai dasar negara Republik Indonesia menurut Pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945, yang menjiwai sila-sila yang lain, mencerminkan tauhid menurut pengertian keimanan dalam Islam.

NALAR TEOLOGIS NU
Bagi Nahdlatul Ulama, Islam adalah aqidah dan syari’ah, meliputi aspek hubungan manusia dengan Allah dan hubungan antar manusia.

Penerimaan dan pengamalan Pancasila merupakan perwujudan dari upaya umat Islam Indonesia untuk menjalankan syari’at agamanya.

Negara Pancasila adalah puncak perjuangan lahir batin politik, ekonomi, sosial, dan budaya umat Islam ketika melawan penjajahan, memerdekakan, mengisi kemerdekaan, dan mewujudkan tujuan negara yang telah dirumuskan sendiri.

Sebagai konsekuensi dari sikap di atas, Nahdlatul Ulama berkewajiban mengamankan pengertian yang benar tentang Pancasila dan pengamalannya yang murni dan konsekwen oleh semua pihak.

Pasal 2
Asas
Nahdlatul Ulama berasas Pancasila

Pasal 3
Aqidah
Nahdlatul Ulama sebagai Jam’iyyah Diniyyah Islamiyyah beraqidah Islam menurut faham Ahlussunnah wal Jama’ah dan mengikuti salah satu madzhab empat: Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali.

Bab II Aqidah/Asas
Pasal 3
Nahdlatul Ulama sebagai Jam’iyyah Diniyyah Islamiyyah beraqidah/berasas Islam menurut faham Ahlussunnah wal Jama’ah dan menganut salah satu dari madzhab empat: Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali.

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, Nahdlatul Ulama berpedoman kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat, kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

SIMPULAN

NU mengakui dan mendukung penuh Pancasila sebagai bentuk final dasar dan falsafah negara Republik Indonesia, yang pengamalannya menjadi perwujudan dari upaya umat Islam untuk menjalankan syari’at agamanya.

NU dengan tegas dan jelas mengkaitkan antara agama dan negara, tapi bukan satu kesatuan. Pancasila adalah dasar negara, bukan agama. Keberadaan Pancasila tidak dapat menggantikan agama atau dipergunakan untuk menggantikan kedudukan agama.

 

*Disampaikan dalam Kajian Islam dan Kebangsaan di Islam Nusantara Center (INC), 8 Maret 2017.

Comments

comments