Panen Raya Santri Cendekia Nusantara

0
868

Keragaman yang dimiliki bangsa Indonesia turut serta mempangaruhi realitas sosial santri.Buku “Kebangkitan Santri Cendekia: Jejak Historis, Basis Sosial dan Persebarannya” mencoba menjawab rekam jejak santri secara komprehensif.

Judulkebangkitan-santri-cendekia_pustaka-compass : Kebangkitan Santri Cendekia: Jejak Historis, Basis Sosial dan Persebarannya
Penulis : Mastuki HS
Penerbit : Pustaka Compass, Ciputat, Tangerang Selatan
Cetakan Pertama : Agustus 2016
Halaman : xxii + 448 eks
Ukuran : 16 x 24 cm

Santri, objek yang selalu menarik untuk dikaji. Istilah santri mulai marak kembali dibicarakan pasca ditetapkannya hari santri pada 22 Oktober oleh Jokowi lewat Kepres Nomor 22 Tahun 2015. Salah satu buku ilmiah yang membahas mengenai eksistensi santri dalam konteks sosiologi pendidikan telah hadir. Di tangan doktor UIN Syarif Hidayatullah, Mastuki HS, santri menjadi unik dan berliku kiprahnya.
Santri yang dimasukkan sebagai kategori kelas menengah di Indonesia memiliki mobilitas dan interaksi kuat di tahun 1970 hingga 1998.

Keragaman yang dimiliki bangsa Indonesia turut serta mempangaruhi realitas sosial santri. Sungguh tidak bijak jika keberadaan santri yang pernah diperolok sebagai entitas masyarakat yang kolot dan hanya bisa mengaji (tidak mampu mengkaji).

Buku “Kebangkitan Santri Cendekia: Jejak Historis, Basis Sosial dan Persebarannya” mencoba menjawab rekam jejak santri secara komprehensif. Kupasan teori sosial-antropologis Weber, Marx, Richard Robison, Geertz dan Wertheim tidak luput dalam mempertajam kajian buku ini. Fakta peran santri dalam konteks keterpelajaran, kemasyarakatan dan keberperanan juga secara detail disajikan dengan indah.

Seakan-akan buku ini mencoba untuk membuka keaslian santri yang selama ini dipandang sebelah mata. Tesa yang dibangun oleh Nurcholish Madjid mengenai intellectual booming (ledakan kaum terdidik kalangan santri) dan tesa Dawam Rahardjo mengenai “panen besar” kaum terpelajar muslim-santri dibuktikan oleh Mastuki.

Keberadaan santri yang tertutup rapat oleh kebijakan rezim yang tidak pro-santri sudah mulai terurai secara rapi. Kalau santri dahulu hanya mengaji di pondok, sekarang sudah berani masuk kuliah. Kalau dahulu hanya mampu bahtsul masa’il dengan kitab kuning, sekarang sudah berani tampil seminar. Jika dahulu santri hanya menulis kitab dengan huruf arab dan pegon, santri sekarang sudah berani membuat buku berbahasa Indonesia dan diterbitkan profesional.

Pola inilah yang disebut sebagai mobilitas sosial yang diakibatkan ledakan kaum santri. Mobilitas sosial santri dapat bersifat horisontal dan vertikal. Mobilitas horisontal ditandai dengan peralihan individu atau kelompok dalam lapisan masyarakat sederajat. Misalnya santri sudah mulai masuk di sektor modern (bisnis, perguruan tinggi, kelompok profesi, pers, LSM dan lain-lain).

Adapun mobilitas vertikal diartikan sebagai perpindahan individu atau kelompok dari satu kelas ke kelas yang lain (cenderun naik dan dominan). Misalnya santri berani masuk dalam lingkaran birokrasi, legislatif dan yudikatif. Fakta yang demikian ini menandakan ada mobilitas sosial vertikal, dimana semula santri hanya aktif dalam lingkup agama-dakwah, berpindah di kelas atasnya.

Kesadaran santri dalam bermasyarakat ini menjadikan fenomena baru. Kaidah-kaidah normatif pesantren yang begitu kaku dan membelenggu seakan mulai lentur dibaca. Maka kehadiran wacana kematangan berpikir tentang interaksi santri dengan negara, demokrasi, pluralisme menjadi salah satu pintu masuk sifat inklusifnya. Dan kajian kitab kuning memberikan dorongan kepada santri untuk bisa berkhidmah secara serius dan interaktif.

Trikotomi masyarakat Jawa yang oleh Geertz disebut priyayi, santri dan abangan bukan menjadi alasan dikotomi tanpa prestasi oleh santri. Maka kritik Wertheim tentang pola aliran itu justru menghalangi pembentukan kelas sosial yang kuat menjadi dorongan bagi santri. Sejak jaman kolonial, santri sudah berbuat nyata untuk bangsa. Kelompok muslim terpelajar 1911 mendirikan Sarekat Islam (SI), 1912 mendirikan Muhammadiyah dan 1926 mendirikan Nahdlatul Ulama (NU).

Tiga organisasi santri ini oleh Mastuki disebut rumit dalam merunut sejarah munculnya kelas sosial santri. Sebab dalam perkembangannya masing-masing memiliki keterikatan ideologi dalam beragama dan berproses membangun bangsa. Akan tetapi kelompok ini disebut “sangat sadar kelas”. Maka posisi SI dan Muhammadiyah menempati posisi tinggi sebagai Muslim-taat pribumi yang berhadapan dengan orang Eropa dan China. Sedangkan NU hadir sebagai jawaban reformisme Islam yang menyudutkan kaum tradisional oleh ulama-santri.

Ada kekhawatiran lahirnya priyayisasi santri dan kematangan revolusi pendidikan membuat jatidiri santri luntur. Basis keagamaan yang semula dikedepankan akan menjadi hilang. Buku yang bermula dari disertasi Mastuki ini ingin memotret kelahiran santri cendekia dengan tiga pokok kajian: partisipasi dan pencapaian pendidikan (educational participation and attainnment) oleh kelas santri, pilihan lembaga pendidikan dan akses terhadap perguruan tinggi.

Basis kelompok santri tradisional disebut berasal dari NU, Nahdlatul Wathan, Perti, Al Washliyah dan lainnya. Sedangkan basis santri tradisional berasal dari Sarekat Islam, Muhammadiyah, Persis, Al Irsyad, Masyumi dan lainnya. Pengelompokan dua ekstrim ini berdasar pandangan dunia (world view) terhadap Islam, kecenderungan praktik dan pengamalan agama (ibadah) dan posisi ulama vis a vis jama’ah.

Organisasi santri ini memiliki persemaian dan kaderisasi di tingkat basis, baik di dunia pendidikan dasar, menengah hingga perguruan tinggi. Maka sangat wajar kemudian lahir HMI, PII, PMII dan IMM. Empat organisasi ini bagi Mastuki ikut mempermudah melihat basis sosial santri sebab menjadi kawah condrodimuko para santri di kampus. Dari aktivitas organisasi ekstra universiter ini lahir tokoh-tokoh gerakan yang berpusat pada basis organisasi santri yang ada di atasnya.

Maka disinilah lahir generasi santri cendekia Nusantara yang merupakan generasi neo-santri yang kemudian mampu menjawab “pengangguran intelektual” yang sempat dikhawatirkan. Bahwa santri yang mandiri, kuat dan matang dalam organisasi sosial-dakwah mampu membutikan kiprahnya di tengah masyarakat. Posisi intelektualisasi massif ini membuat gejolak santri berupa menjamurnya penerbitan, kajian ilmiah dan keterlibatan di dunia politik.

Ruh santri tidak akan begitu mudah luntur. Sebab santri memiliki keunikan dan keterkaitan dengan induk organisasi agamanya. Oleh sebab itu, tidak mudah memang memprediksi masa depan kelas menengah santri. Sebab kelas menengah santri adalah anak kandung zamannya berdasar entitas peradaban yang dibangun.

Maka perlu ditegaskan bahwa santri bukanlah realitas yang tunggal, melainkan jamak dan majemuk. Kemajemukan santri menyangkut perbedaan basis sosial, mobilitas sosial, ideologi yang diusung, wacana yang dikembangkan dan nilai keislaman. Maka di penghujung abad 20, lahir pertentangan dalam Islam (the class within Islam). Walau demikian, santri cendekia Nusantara memiliki komitmen kuat dalam membangun Indonesia dengan ilmu dan kedamaian.

Buku ini sangat tepat dibaca oleh para kyai, tokoh lintas agama santri pondok pesantren, aktivis pergerakan mahasiswa, intelektual muda, dosen, birokrat dan seluruh pecinta ilmu. Dari lembar demi lembar kita akan diajak berkelana menyingkap dunia santri Nusantara yang sangat unik, penuh perjuangan meraih pengetahuan dan kekhidmatan membangun bangsa Indonesia. Dari membaca buku ini akan muncul objektifitas dalam memahami dunia santri dan tentunya tidak lagi muncul konflik santri dan non-santri. Selamat membaca.

Peresensi
M. Rikza Chamami
Dosen Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang & Sekretaris Lakpesdam NU Kota Semarang

Comments

comments