Poros Utama Jaringan Ulama Nusantara-Haramain dari Bogor ?

0
874

Pustakacompass.com, Ciputat – Banyak Ulama besar Nusantara yang menjadi guru ulama-ulama dunia lahir dari tanah Pasundan dan Priyangan, salah satunya adalah Syekh Mukhtar dari Bogor.  Ia merupakan keturunan dari ulama-ulama besar yang menyambung ke Walisongo dan juga umara turunan eyang dalem Cikundul, bupati pertama Cianjur.

Sebagaimana dikatakan oleh Penulis buku Masterpiece Islam Nusantara, Zainul Milal Bizawie. Ia juga mengatakan bahwa jaringan Syekh Mukhtar diawali di Betawi. “Sayyid Usman Betawi seorang Mufti di Batavia adalah guru Syekh Mukhtar, dan juga salah satu guru  Habib Ali Kwitang” katanya.

Hal itu disampaikan sejarawan dari kalangan santri yang akrab disapa Gus Milal, dalam membuka Kajian Turats di Islam Nusantara Center, Sabtu 18 Maret 2017. Hadir sebagai pembicara, Ahmad Ginanjar Sya’ban.

Senada dengan Gus Milal, Ahmad Ginanjar mengatakan “Benar apa yang dikatakan Gus Milal tadi. Beliau seorang ulama sekaligus juga seorang bangsawan dan seorang umara’.  Menarik karena zaman dulu rata-rata ulama itu dari garis bangsawan. Raden Mahfudz misalnya, ia putra dari kiai Abdullah, kiai Abdullah putra dari kiai Abdul manan dan Kiai Abdul mana ini putra demang ki Pamanggala”

Ia menjadi salah satu konsultan dan poros utama jaringan intelektual ulama Nusantara-Haramain pada awal abad ke-20. Meneruskan jejak gurunya yang bernama Syekh Nawawi Banten (akhir abad ke 19).

Syekh Mukhtar bernama lengkap Raden Muhammad Mukhtar, putra dari Raden Aria Natanagara, putra dari Raden Wira Tanu Datar VI (bupati Cianjur). “Di Mekah beliau dikenal dengan Syekh Atharid “, katanya.

Ia seorang Syaikh, mudarris atau guru besar di Masjidil Haram Makkah. Ia juga seorang Musnid dan Muhaddits. Mengarang beberapa kitab rujukan, sebagian dalam bahasa Arab, dan lainnya dalam bahasa Sunda beraksara Arab.

Salah satu kitab Syekh Mukhtar berbahasa sunda berjudul “Ahlu Sunnah wal Jamaah” ditulis di Mekkah dan diterbitkan di Mekah dan Kairo. Kitab ini khusus di tulis untuk merespon gerakan Wahabi.

Generasi Santri Harus Meneruskan Keilmuan Thabaqat dan Sanad

Ilmu Thabaqat (hagiography) dalam tradisi Arab Islam juga terdapat disiplin ilmu lain yang tak kalah penting yaitu Ilm al Asanid wa al-Atsbat atau ilmu yang mempelajari genealogi Keilmuan dan sanad intelektual. “Sekarang di dunia Pesantren lagi viral tentang ilmu ini” ujar Ginanjar.

Di literatur Indonesia tidak tercatat Biografi Syeikh Mukhtar, adanya di literatur Arab. Ginanjar mengatakan “Andai saja tidak ada ilmu thabaqat, tidak ada ilmu sanad, kita tidak akan pernah kenal siapa Syekh Mukhtar. Di Indonesia yang mempunyai tradisi ini ya Santri NU. “

Syekh Mukhtar dilantik dan dikukuhkan oleh konsesi para ulama Makkah sebagai pengajar, ahli hadits dan bahkan guru besar di masjidil Haram Mekkah.

Beliau mengajar kelas para pelajar senior dan ulama-ulama dari berbagai penjuru dunia. “Majlis Syekh Mukhtar dihadiri oleh 400 orang terdiri dari para masyayikh atau Santri senior”. jelasnya.

Setiap pagi Syekh Mukhtar membuka kelas Ngaji Nahwu tafsir dll, ba’da asyar membuka kitab Ihya Ulumuddin. Dan khusus setiap selasa Ngaji Ilmu falaq atau astronomi dan juga metrologi. Setiap malam jum’at membuka majlis zikir dan setiap selesai Majlis selalu membagikan makanan. “Kebayang  bagaimana ketokohan Syekh Mukhtar itu pintar dan kaya. Ngaji fulltime di sini” katanya.

“Hal-hal seperti ini tidak terdokumentasi di sumber-sumber Nusantara. Alhamdulillah ada sumber dari Arab dan tugas kita mencari sumber seperti ini “, pungkas alumni Al-Azar ini.

Kajian di Islam Nusantara Center ini rutin diselenggarakan setiap Sabtu dan telah berjalan selama 5 pertemuan. Empat pertemuan sebelumnya membahas Karya dan sanad intelektual 5 tokoh ulama Nusantara yang mempunyai kiprah besar, diantaranya Syekh Nawawi Al-Bantani, Syekh Mahfudz At-Termasy, Syekh Abdul Shamad Palembang, sekarang  mengkaji Syeikh Mukhtar bin ‘Atharid Al-Bughuri (dari Bogor).(DamarSam)

Comments

comments