Puncak Road Show di Pesantren Askhabul Kahfi, Dihadiri Seribu Santri

0
289

Pustakacompass.com, Semarang – Pondok Pesantren Askhabul Kahfi (ASKA) Kota Semarang, yang menjadi titik Puncak Road Show “Mahakarya Islam Nusantara”, dihadiri sekitar seribu santri putra dan putri di komplek halaman gedung madrsah aliyah seluas setengah hektar.

Santri Askhabul Kahfi Kendal, dengan semangat menyanyikan Indonesia Raya dan Shubbanul Wathan
Santri Askhabul Kahfi Kendal, dengan semangat menyanyikan Indonesia Raya dan Shubbanul Wathan

Hadir bersama Ahmad Ginanjar Sya’ban dan Zainul Milal Bizawie, Kiai Nadhirin sebagai perwakilan pengasuh Pesantren. Senin, 9 Oktober, dimulai pukul 18.30 wib. Gemuruh lagu Indonesia Raya dan Shubbanul Wathan dilantunkan santri dengan penuh semangat.

Dalam pidato pembuka, Kiai Nadhirin, memberi apresiasi sangat besar dan menyampaikan kebanggaannya, karena Pesantren menjadi tujuan puncak Road Show. “Ini acara sangat luar biasa. Karena ini perdana untuk acara semacam ini”, katanya.

Kiai Nadhirin menyampaikan sambutan. Memberi apresiasi besar terhadap acara road show ini.
Kiai Nadhirin menyampaikan sambutan. Memberi apresiasi besar terhadap acara road show ini.

Ia menceritakan perjuangan awal berdirinya ponpes Aska yang hanya diikuti beberapa gelintir santri yang mendaftar. Tapi, berkat kerja kerasnya, setelah 10 tahun lebih, kini santrinya mencapai 1300 lebih.

Sementara itu, Zainul Milal Bizawie yang menjadi pembicara pertama memberikan pemahaman dalam konteks sejarah syair lagu “Shubbanul wathan” karya KH. Wahab Chasbullah. Bahwa puluhan tahun sebelum Indonesia merdeka, santri telah lama mengekspresikam kecintaan terhadap tanah air.

Gus Milal Bizawie
Gus Milal Bizawie

“Santri sudah mencintai negeri dan bangsa ini. Syair Shubbanul Wathan karangan KH. Wahab Chasbullah yang dilantunkan santri jauh sebelum merdeka menjadi tandanya.”, ujar pria yang akrab disapa Gus Milal ini.

Kemudian, penulis Masterpiece Islam Nusantara ini menjelaskan ketersambungan sanad para santri. “Menjadi santri di Askhabul Kahfi sama saja menjadi santri walisongo. Karena guru-guru dan kiai di sini belajar dari kiai-kiai di Meranggen, yang sambung kepada Syaikh Sholeh Darat Semarang”, kata Milal

Para santri pasukan Diponegoro, terang Gus Milal, telah menyebar usai perang Jawa. Mereka kembali dan mendirikan pesantrem di pelosok wilayah Nusantara. Semuanya membentuk jaringan dan sanad perjuangan yang masih solid hingga perang kemerdekaan tiba.

Ia juga menjelaskan kenapa roadshow diakhiri di Pesantren Kendal, karena banyak laskar Hizbullah dari kendal. “Perang di Ambarawa, yang maju terdepan melawan jepang ya para santri dari Semarang kendal” tandasnya.

Menulis, Medan Jihad Santri Meneruskan Perjuangan Ulama

Melengkapi Gus Milal, Ajengan Ginanjar menjelaskan “makna gandul” dari syair Shubbanul Watham tersebut.

Ajengan A. Ginanjar Sya'ban
Ajengan A. Ginanjar Sya’ban

Lebih lanjut, ia memberi nasehat pada santri agar rajin belajar dan menulis. “Saatnya santri terjun di medan jihad yaitu menulis. Dan mengajak untuk peduli pada karya-karya Ulama Nusantara. Santri Askhabul Khahfi, setelah masuk sekolah tinggi, apapun bidangnya, jangan sampai kemanapun dia pergi, kita kehilangan kesantrian.”, tandasnya.

Kenapa harus menulis? Karena ulama terdahulu juga menulis kitab-kitab keilmuan. Karena Syaikh Nawawi dari Banten yang menjadi guru besar Haramain, juga menulis. Melahirkan banyak karya yang menjadi rujukan dunia Islam. Dikaji di Pesantren-pesantren bahkan di dunia.

“Menulis dan meninggalkan karya akan dikenal dan keberkahan mengalir terus menerus. Karena sesungguhnya kenangan, seperti adalah umur kedua yang bermanfaat. Sosoknya masih seakan akan hidup.”, tambahnya.

“Para santri harus bercita-cita menjadi orang alim, dan bermanfaat.”, pungkasnya.

Kemudian keduanya mengakhiri dengan motivasi kepada Santri untuk menulis sebagai kelanjutan perjuangan ulama Nusantara. Serta memaparkan apa garis besar dari isi buku Masterpiece Islam Nusantara dan Mahakarya Islam Nusantara.

Buku Masterpiece Islam Nusantara menjelaskan bagaimana jejaring sanad perjuangan dan keilmuan ulama-ulama Nusantara”. Imbuhnya. Tujuannya, lanjut Milal, adalah untuk membangkitkan santri berjuang melanjutkan warisan ulama dalam dunia literasi.

Ribuan peserta Road Show Mahakarya Islam Nusantara memenuhi lapangan
Ribuan peserta Road Show Mahakarya Islam Nusantara memenuhi lapangan

Sebagai titik terakhir dan puncak Road Show, acara ini terbilang megah. Road show bedah buku ini akhirnya sukses digelar di 12 titik.

Diantaranya adalah UIN Maliki Malang, UINSA Surabaya, STAI Al-Fitrah, PC. RMI NU Tulungagung, PP HM Mahrusiyyah Lirboyo Kediri, IAIN Surakarta, PP. Salafiyah Kajen Pati, STIBI Syekh Jangkung Pati, STAIN Kudus, Universitas Semarang, dan PP. Ashabul Kahfi Kendal.

Menurut Abidin, dari pihak Penerbit Pustaka Compass, Road Show Mahakarya Islam Nusantara ke 2, rencananya akan kembali digelar pada Desember akhir tahun ini. “Banyak Pesantren dan Kampus yang menghubungi kami, ingin turut serta dalam road show ini.”, kata Abidin.(Hery).

Serempak mengucapkan Selamat Hari Santri Nasional 22 Oktober dan Mendukung Santri of The Year 2017
Serempak mengucapkan Selamat Hari Santri Nasional 22 Oktober dan Mendukung Santri of The Year 2017

Comments

comments