Sang Panglima Santri dari Barus

0
897

 

Meski merupakan tokoh besar, Zainul cenderung terlupakan, seolah tenggelam oleh tokoh NU sezaman maupun belakangan yang lebih dikenal. Padahal sejarah mencatat belaiu tokoh NU pertama yang menduduki jabatan eksekutif, yakni wakil perdana mentri di zaman Perdana Mentri Ali Sostroamidjoyo

(Lukman Hakim Saefudin, Menteri Agama RI)

pcover-panglimasantri-pustakacompassTIDAK banyak yang tahu, bahwa KH Zainul Arifin sebagai seorang tokoh NU yang dekat dengan Bung Karno itu orang dari Sumatera Utara dan bermarga Pohan. Zainul Arifin sendiri adalah keturunan dari Raja Islam dari Barus, keturunan bermarga Pohan.

Mungkin sebagian kita lupa, ketika Presiden Soekarno ditembak dari jarak dekat di masjid Istana ketika Shalat Iedul Adha di tahun 1962, tokoh yang dekat beliau tidak lain KH Zainul Arifin Pohan yang berada di dekat Kepala Negara, dan yang terkena tembakan. Detil peristiwa itu terekam baik dalam buku ini.

Zainul Arifin sejak tertembak kemudian dirawat di rumah sakit 10 bulan, sampai beliau menghembuskan nafas terakhir. Pada saat wafat KH Zainul Arifin Pohan itu pula Presiden Soekarno menganugerahkan Pahlawan Nasional kepada almarhum. Dan karena itu beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan. Pada saat wafat KH Zainul Arifin menjabat sebagai Ketua DPR-GR.

Ario Helmy (penulis) dalam peluncuran buku “Panglima Santri” di JCC Senayan.

DI SIANG hari tadi (15/11), pada saat penyelenggaraan International Islamic Expo di JCC, diadakan peluncuran buku yang mencatat bagian-bagian terpenting dari sejarah KH Zainul Arifin. Penulisnya tidak lain adalah cucu beliau, bernama Ario Helmy, dari anak perempuan. Buku yang berjudul “KH Zainul Arifin Pohan PANGLIMA SANTRI :: Ikhlas Membangun Negeri” (2015) merupakan edisi revisi dari ‘Berdzikir Menyiasati Angin” (2009). Ario memanggil ompungnya, Zainul Arifin, sebagai “Anggut”.

Ario Helmy sendiri aktif di organisasi kami, Parsadaan Pohan Dan Anak Borunya (Parpoda), chapter Jakarta, Bogor, Depot, Tangerang, dan Bekasi, dalam kedudukan Ario sebagai Anak Boru. Keluarga Besar Pohan yang berasal dari Barus, Tapanuli Tengah, kampung dari KH Zainul Arifin Pohan, memang kini sangat aktif di Parpoda.

Ario tiada henti riset untuk memperkaya data sejarah kejuangan ompungnya, KH Zainal Arifin Pohan. Buku ini layak menjadi referensi, tidak saja bagi orang bermarga Pohan karena KH Zainal Arifin telah menunjukkan kepeloporannya menjadi elit di bangsa yang turut diperjuangkannya tetapi juga untuk kalangan umum.

KH Zainal Arifin Pohan (1909 -1962) semasa hidupnya pernah menjadi menteri agama, dan wakil perdana menteri di cabinet Ali Sastroamidjojo – Zainul Arifin (Ali – Arifin yang dikenal sebagai cabinet PNI – NU) yang sukses menyelenggarakan Konperensi Asia Afrika, di Bandung 1955 dan Ketua DPR-GR. KH Zainul Arifin juga adalah Panglima Hisbullah, sayap militer di NU yang sumbangannya bagi perjuangan fisik militer tiada terhingga.

Sang cucu, Ario Helmy, memang sangat terobsesi dengan kepahlawanan ompungnya, KH Zainur Arifin Pohan.

Dia mencatat perjalanan KH Zainul Arifin ketika diterima menjadi Tamu Allah di Makkah, mendampingi sahabatnya Bung Karno. Ketika itu Bung Karno dihadiahi oleh Raja Arab Saudi mobil keren Chrysler Imperial produksi Detroit, Michigan, 1955, dengan mesin 5.400 cc, automatis, yang menjadi salah satu mobil kepresidenan Bung Karno, dengan nomor registrasi: B 9105.

Pada mobil itu terdapat bekas bom ketika terjadi percobaan pembunuhan Bung Karno di insiden Perguruan Cikini yang dikenal dengan nama “Peristiwa Cikini” pada tahun 1957, Ketika BK ingin berkunjung ke sekolah anak-anaknya.

Banyak cerita menarik untuk para sejarawan, maupun kalangan umum mengenai peran KH Zainul Arifin Pohan dalam sejarah berdirinya Republik Indonesia.

Dalam suatu acara di Parpoda, saya selaku ketua umum pernah mengatakan: “Kalian bermarga Pohan. Ompung Zainul Arifin telah membuktikan dirinya bagian dari Republik. Karena itu Pohan itu turut mendirikan negeri ini. Karena itu kalian bukan anak kos, melainkan pemilik negeri ini. Kepeloporan Alm. KH Zainul Arifin menjadi benchmark tertinggi dalam kontribusi Pohan terhadap negeri yang belum tersaingi sampai kini.”
Oleh : Hazahirin Pohan
Sumber : hazpohan.com/blog

Comments

comments