Sarasehan Islam Nusantara di Al-Fitrah Surabaya

0
119
SAMSUNG CAMERA PICTURES

Sarasehan Islam Nusantara di Al-Fitrah Surabaya : Santri Pemegang Masadepan Pemikiran Islam di Indonesia

Pustakacompass.com, Surabaya – Ahmad Ginanjar Sya’ban, mengatakan bahwa masa depan perkembangan masa depan pemikiran Islam ada di tangan para santri akademis.

Hai itu disampaikan dalam acara Sarasehan Islam Nusantara di STAI Al Fitrah Surabaya. Selasa, (03/10). “Yang menentukan arah pemikiran Islam di Indonesia, adalah santri akademik.”, katanya mengutip Nur Cholis Majid.

“Karena santri punya akar tradisi yang kuat kedalam dan ketika pohon keilmuan tumbuh, kemudian dipoles keilmuan kampus yang mumpuni, pohonnya menjulang tinggi dan berbuah manis”, imbuhnya.

Mengkaji Islam Nusantara, penting untuk dijawab tuduhan bahwa Islam di Nusantara itu tidak kekinian, pinggiran, lokal, tidak ada karya. Oleh karena itu, Ginanjar memperkenalkan buku karyanya berjudul “Mahakarya Islam Nusantara” terbitan Pustaka Compass.

Selain itu, alasan dari penulisan buku “Mahakarya”, Ginanjar mengaku, “riset penulisan buku ini salah satunya sebagai bentuk pengabdian kepada guru-gurunya.”, akunya.

Dalam buku tersebut, ia mengajak pembaca menyelami samudra keilmuan melalui karya-karya Ulama Nusantara yang diulasnya. “Santri punya tugas mengkaji kitab-kitab Ulama Nusantara. Khususnya karya-karya yang berkaitan dengan walisongo. Karena santri adalah pewaris ulama”, tandasnya

Salah ulama yang dibahas Ginanjar adalah Syaikh Abdul Syakur Surabaya, guru dari Hadratussyaikh Hasyim Asyari. Tapi sulit menemukan tentang tokoh ini. Dosen filologi Unpad ini mengatakan “..yang mengejutkan, sosok Syaikh Abdul Syakur Surabaya ini ditemukan dalam catatan Snouck (h. 621).”

“Penting mengkaji ilmu thabaqat, ilmu biografi Ulama Nusantara.”, pungkasnya.

Acara sarasehan ini, juga dihadiri oleh Zainul Milal Bizawie (Penulis buku “Masterpiece Islam Nusantara”), KH. Rasyid (Dosen STAI) dan ratusan mahasantri STAI Alfitrah sebagai peserta.

Sementara itu, menekankan pentingnya ketersambungan dan hubungan guru murid, Gus Milal mengatakan bahwa sanad itu sangat penting. “Kemerdekaan dan keutuhan bangsa ini, itu karena jaringan ulama-ulama Nusantara yang tidak terputus. Jalinan hubungan guru-murid atau kiai-santri yang kuat”, katanya.

Hubungan tersebut, lanjut Milal, merupakan hubungan ulama-santri lintas bidang keilmuan. Baik ulama hadits, tafsir, fiqih maupun ulama tarekat. “Lebih dari itu, hubungan tersebut juga dijalin dengan hati yang bertaut. Karena itu, guru itu penting sebagai pembimbing jalan. Baik jalan keilmuan maupun jalan spiritual”, tandasnya.

Pria yamg akrab disapa Gus Milal melanjutkan bahwa politik para ulama adalah politik kebangsaan. “Politik yang tujuannya hanya menjaga kesatuan Indonesia. Tidak berniat untuk mencari kekuasaan, tapi menjaga bangsa ini.”, ucap sejarawan yang juga penulis “Laskar Ulama-Santri” ini.

Terakhir, milal menekankan bahwa santri harus mencari dan mengkaji khazanah keilmuan ulama-ulama Nusantara di daerah-daerah masing-masing. Karena ini akan sangat bermanfaat bagi masyarakat.

Seminar ini merupakan bagian dari rangkaian Road Show bedah buku “Mahakarya Islam Nusantara” bersama A. Ginanjar Sya’ban dan Zainul Milal Bizawie, di 12 titik Jawa Timur dan Jawa Tengah.

STAI Al-Fitrah Surabaya adalah tempat kedua, setelah UINSA Surabaya. Beberapa tempat lain yang menjadi tujuan berikutnya antara lain UIN Maliki Malang, PC. RMI NU Tulungagung, PP HM Mahrusiyyah Lirboyo Kediri, IAIN Surakarta, PP. Salafiyah Kajen Pati, STIBI Syekh Jangkung Pati, STAIN Kudus, Universitas Semarang, dan PP. Ashabul Kahfi Kendal.(Zainal Abidin).

Comments

comments