Syaikh Abdul Syakur Surabaya, Guru Tasawuf di Mekkah

0
836

Pustakacompass.com, Ciputat Tangsel – Syaikh Abdul Syakur Surabaya, mungkin banyak diantara kita sebagai warga NU yang belum memgenal dan bahkan baru tahu nama ulama yang menjadi salah satu Guru KH.M.Hasyim Asy’ari . Bahkan menurut Kiai Zainul Milal Bizawie, Syaikh Abdul Syakur ini merupakan salah satu mentor dan mediator Kiai Hasyim Asy’ari ketika belajar di Mekkah.

Sedangkan menurut Ajengan Ahmad Ginanjar Sya’ban, Syaikh Abdul Syakur merupakan salah satu sosok ulama besar Nusantara yang bermukim di Mekkah yang biografi dan jejak intelektualnya belum bisa terlacak secara jelas.

Adapun sumber utama di Nusantara dalam meneliti tentang Syaikh Abdul Syakur Surabaya adalah sampul halaman pertama Kitab Al Hikam Karya Syaikh Ibnu ‘Athaillah As Sakandari milik KH.M.Hasyim Asy’ari. Penemuan halaman Kitab Al Hikam milik Kiai Hasyim itu atas jasa besar Bapak Fathurrahman Kariyadi Jombang (Prof. Oman) yang menjadi salah satu pengajar di Pesantren Tebu Ireng.

Pada lembaran sampul halaman Kitab Al Hikam ini bisa menghantarkan kita kepada sebuah jendela yang telah kita buka ternyata dibalik jendela itu terbentang sebuah dunia tentang khazanah ulama Nusantara yang besar dan menjadi Pengajar di Mekkah dan menjadi guru langsung dari KH.M.Hasyim Asy’ari.

Pada halaman sampul halaman Kitab Al Hikam itu nampak jelas sekali Kiai Hasyim Asy’ari membuat Parateks.

Dalam ilmu Filologi,dikenal istilah “Parateks” atau “Al Maktubat al idhafiyyah” ,yaitu catatan tambahan di luar teks asli sebuah naskah yang ditulis oleh unsur atau pihak lain. Misalnya memuat :

1. Catatan kepemilikan naskah.

2. Catatan harga naskah.

3. Catatan waktu dimulainya pengajian.

4. Catatan peristiwa tertentu yang terjadi yang disisipkan di dalam naskah,dll.

Adapun parateks dalam sampul halaman depan Kitab Al Hikam Milik KH.Hasyim Asy’ari memuat :

1. KH.M.Hasyim Asy’ari mengaji Kitab Al Hikam dengan metode Sorogan.

2. Guru yang mengajarkan kitab tsb bernama Syekh Abdul Syakur Surabaya.

3. Peristiwa ini terjadi pada bulan Ramadhan 1318 H atau bertepatan pada bulan Desember tahun 1900 M.

4. Bertempat di kediaman Syekh Abdul Syakur di Mekkah.

5. KH.M.Hasyim Asy’ari mendapatkan ijazah dan sanad Al Hikam dari Syekh Abdul Syakur dari Syekh Ahmad Zaini Dahlan,dll.

Jika kita perhatikan data di atas,maka setelah mendirikan pesantren Tebu Ireng Jombang pada tahun 1892 M , KH.M.Hasyim Asy’ari berangkat ke Mekkah lagi dan belajar kepada Syekh Abdul Syakur Surabaya,dan para ulama Aswaja yang hidup sezaman dengannya,diantaranya Syekh Ahmad Al Khatib Minangkabau,Syekh Mahfudz At

Dalam tradisi Arab-islam,kita mengenal disiplin ilmu Thabagot atau kamus Biografi dan Hagiography para ulama. Setiap abad dan masanya,selalu ada saja penulis kitab yang merangkum nama-nama ulama di Mekkah yang mengajar di sana. Di dalam Kitab Tasniful Asma’ yang ditulis ketika Syekh Abdul Syakur masih hidup,tidak dituliskan nama beliau di kitab tersebut. Malah yang tercantum di sana ada nama KH.Hasyim Asy’ari dan KH.Abdul Muhid dari Panji Sidoarjo.

Lalu dimanakah kita bisa melacak informasi tentang Syekh Abdul Syakur ? Ternyata sumber informasi ini di dapat di dalam Buku Orientalis Barat dari Leiden atau Belanda milik Snouck Hurgronje ketika berada di Mekkah dalam Kurun waktu 1885-1886 M. Bukunya tersebut berjudul “Mekkah in the latter part of the 19th Century : Daily Life,Customs,and Learning of the Moslims of the East-Indian-Archipelago (Mekkah di akhir abad ke-19, kehidupan sehari-hari,pakaian,dan gerakan muslim Nusantara di Mekkah).

Sosok Syekh Abdul Syakur Surabaya dijelaskan dalam buku Snouck sebanyak 2 halaman. Berikut beberapa penjelasan dalam Buku tsb tentang Syekh Abdul Syakur :

“Tokoh terakhir yang merasa perlu dijelaskan secara detail di sini dari ulama muslim Nusantara yang mengajar di Mekkah adalah Syekh Abdul Syakur Surabaya. Syekh Abdul Syakur datang ke Mekkah ketika usianya masih muda (belum mencapai usia 40 tahun). Dia saat itu masih sangat belia. Dia datang Mekkah dan hidupnya di bawah asuhan dan bimbingan para ulama Mekkah,dan menjadi abdi dalem para ulama tersebut di Rumahnya.

Syekh Abdul Syakur ketika di Mekkah berkhidmah di rumahnya Syekh Muhammad Syatha (Sayyid Bakri) yaitu ulama sepuh pengarang Kitab Hasyiyah li’anatit Tholibin ‘Ala Fathul Mu’in yang kitabnya terkenal dikalangan pesantren Nusantara.

Syekh Muhammad Syatha yang meninggal di tahun 1886 M,punya 2 orang dari Nusantara yang membantu di rumahnya,salah satunya adalah Syekh Abdul Syakur. Dalam tradisi ngaji atau belajar ilmu agama,tidak hanya dikenal ngaji kitab tetapi juga mondok di bawah pengawasan gurunya.

Adapun guru-guru dari Syekh Abdul Syakur diantaranya adalah :

1. Syekh Muhammad Syatha.

2. Syekh Nawawi Al Bantani.

Melihat masa penempaan Syekh Abdul Syakur (1850-1880 M),maka kemungkinan besar jaringan-jaringan gurunya di Mekkah diantaranya Syekh Ahmad Zaini Dahlan,Syekh Abdul Hamid Syirwani, Syekh Umar Syatha,Syekh Abdul Ghani Bima,Syekh Ahmad Khatib Sambas,dll.

Kisah pengabdian Syekh Abdul Syakur yang sangat mengesankan kepada gurunya yaitu Syekh Muhammad Syatha. Sudah menjadi amalan ibadah rutin bagi Syekh Muhammad Syatha setiap sepertiga malam terakhir untuk mengerjakan sholat tahajud. Dan karena sangking inginnya Syekh Abdul Syakur mengabdi kepada gurunya,untuk bisa mengucurkan air wudhu kepada gurunya yang akan mengerjakan sholat tahajud,maka dia hingga rela tidur di samping kamar mandi gurunya ini.

Hal ini dilakukan agar dia tidak ketinggalan berkhidmah kepada gurunya. Dan ketika Syekh Abdul Syakur mendengar langkah kaki gurunya yang bangun tidur itu,maka Syekh Abdul Syakur segera bangun dan menyiapkan air wudhu untuk gurunya. Setelah itu dia sholat tahajud berjama’ah dengan gurunya itu.

Karena melihat betapa tadzim dan khidmahnya Syekh Abdul Syakur kepada gurunya ini,membuat hati sang Guru tersentuh akan ketulusan dan keikhlasan pengabdian dari muridnya ini. Selain berkhidmah beliau juga belajar. Sehingga Syekh Abdul Syakur mendapat reputasi dari gurunya yaitu Syekh Muhammad Syatha dan para ulama Mekkah lainnya sebagai murid yang cerdas dan berhasil menguasai berbagai disiplin ilmu.

Dibandingkan dengan ulama-ulama Nusantara di Mekkah lainnya,Syekh Abdul Syakur adalah orang Nusantara yang kemampuan bahasa Arabnya paling fasih.

Dan karena sangking dekatnya dengan Syekh Muhammad Syatha,Syekh Abdul Syakur dinikahkan dengan ke-3 putrinya.

Yang diajarkan oleh Syekh Abdul Syakur kepada muridnya berupa ilmu nahwu Shorof, fiqih,tassawuf akhlaqi.

Wallahu A’lam Bisshowab..

Sumber : Resume Kajian Turats Ulama Nusantara, INC, Sabtu (5/8) oleh Denny Fajar Subekti.

Comments

comments