Jejaring ulama santri di lereng gunung Ciremai hingga membujur di pantai utara Jawa Barat, dan jejaring di tanah Priangan serta sepanjang pegunungan Salak dihubungkan dengan jejaring ulama Betawi dan Banten oleh sosok ulama dari Purwakarta, yaitu SYEKH MAMA SEMPUR.  (Masterpiece Islam Nusantara)

Syekh Mama Sempur atau KH. Tb. Ahmad Bakri pendiri pondok pesantren Sempur makamnya berjarak yang ditempuh hanya 30 menit dari makam syekh RH. Muhammad Yusuf / Syekh Baing Yusuf.

mamasempur-pustakacompassLokasi makam Syekh Mama Sempur ini berada di Kampung Sempur Gg. Makam Rt 05/02. Letaknya tidak jauh dari Jalan Raya Sempur, hanya saja untuk mencapai lokasi makam, kita harus melewati gang di antara rumah-rumah warga. Setelah memilih jalan yang terjal, dan bertanya pada warga, akhirnya Z. Milal Bizawie menemukan gang dan lokasi makam.

Sama halnya dengan makam-makam para Wali Allah yang lain, makam Syekh Mama Sempur tidak pernah sepi dari para peziarah. Ia wafat pada tanggal 1 Desember tahun 1975 pada hari Senin.

mamasempur-ziarah-pustakacompass
Makam Syekh Mama Sempur tidak pernah Sepi oleh para peziarah

mamasempur-pustakacompass-2Sejarah Singkat Syekh Mama Sempur

mama-sempurKH. Tb. Ahmad Bakri bin KH. Tb, Sayidah, merupakan keturunan dari keraton Banten. Ahmad Bakri muda belajar ke Makkah pada banyak guru dan pada dua guru yang berasal dari Nusantara yang menetap di Makkah yakni pada Syekh Imam Nawawi Al Bantani untuk belajar fiqih dan pada Syekh Mahfudz Termas.

Mama Sempur dilahirkan sekitar tahun 1268 H/ 1851 M di Pleret Purwakarta Jawa Barat dan wafat pada malam Senin, 27 Zulkaedah 1395 H130 November 1975 M, dalam usia 128 tahun dimakamkan di Kampung Sempur, Jawa Barat.

Sepulang dari Makkah, beliau mendirikan pesantren di Desa Sempur, Plered. Para ulama di Jawa Barat mengenal beliau sebagai ulama Tariqat Naqsabandiyah yang sangat dihormati. Masyarakat Purwakarta lebih mengenal beliau dengan sebutan Syekh Mama Sempur ketimbang nama asli beliau.

mamasempur-milal-pustakacompass-2Sanad dan Jejaring Ulama-Santri : Syekh Mama Sempur

Jejaring ulama santri di lereng gunung Ciremai hingga membujur di pantai utara Jawa Barat, dan jejaring di tanah Priangan serta sepanjang pegunungan Salak dihubungkan dengan jejaring ulama Betawi dan Banten oleh sosok ulama dari Purwakarta, yaitu Syekh Mama Sempur.

Sebagai santri Ajengan Syatibi Gentur, Syekh Khalil Bangkalan, Kiai Sholeh Benda, Sayyid Usman Betawi sampai Syekh Nawawi dan Syekh Muhktat Bogor, jejaring Mama Sempur membujur mengitari Tatar Pasundan. Sebagai penerus perjuangan kesultanan Banten, Mama Sempur juga menghubungkan dengan para pejuang di Tatar Pasundan.

Daerah perjuangannya dekat dengan guru dari gurunya, yaitu Syekh Baing Yusuf Purwakarta, keturunan Aria Wangsa Goparna. Salah satu keturunan Aria Wangsa Goparna yang lain adalah KH R Abdullah bin Ajengan Nuh, teman Mama Sempur sesama santri Ajengan Syatibi Gentur.

Mama Sempur juga cukup dekat dengan Syekh Hasyim Asy’ari dan Habib Ali Kwitang yang sama-sama pernah menjadi murid Syekh Nawawi al Bantani di Haramayn.

Ia adalah keturunan Syarif Hidayatullah / Sunan Gunung Jati. Dalam karyanya yang bejudul “Tanbihul Mukhtarin” (h. 22), silsilahnya adalah KH. Tb. Ahmad Bakri bin KH. Tb. Saida bin KH. Tb. Hasan Arsyad Pandeglang bin Maulana Muhammad Mukhtar Pandeglang bin Sultan Ageng Tirtayasa (Abul Fath Abdul Fattah) bin Sultan Abul Ma’ali Ahmad Kenari bin
Sultan Abdul Mafakhir Mahmud Abdul Qodir Kenari bin Maulana Muhammad Ing Sabda Kingking bin Sultan Maulana Yusuf bin Sultan Maulana Hasanudin bin Sultan Maulana Syarif Hidayatullah (Sultan Gunung jati)

Kakeknya, KH. Tubagus Arsyad adalah seorang qadhi Kerajaan Banten. Semasa di Jawa pernah berguru kepada Syekh Khalil Bangkalan Madura, Kiai Hasan Mustafa Sukabumi, Kiai Sholeh Darat, Sayyid Utsman bin Aqil bin Yahya Betawi, Syekh Ma’sum bin Ali, Syekh Soleh Benda Cirebon, Kiai Syaubari Kuningan, Syekh Ma’sum bin Salim Semarang, Raden Haji Muhammad Roji Ghoyam Tasikmalaya, dan Radcn Muhammad Mukhtar Bogor.

Dalam kitab “Idlah al-Karatoniyyah fi ma yata’allaqu Bidlalati al-Wahhabiyah” (h. 27), di Mekkah dia berguru kepada Syekh Nawawi al Bantani, Syekh Muhammad Mukhtar bin ‘Atharid al-Bughri (Bogor, lahir 1278 H/1861 M), Sayid Abdul Hamid Kudus (lahir 1280 H/1863 M), Syekh Mahfuz at-Tarmasi (lahir 1285 H/1868 M), Syekh Abdul Haq alBantani (cucu Syekh Nawawi al-Bantani), Syaikh Ahmad Zaini Dahlan, Syaikh Said Babshil, Sayyid Abdul Karim ad-Daghistani, Syaikh Ali Kamal al-Hanafi, Syaikh Jamal al-Maliki, Syaikh Ali Husain al-Maliki, Sayyid Hamid Qadli Jiddah, Tuan Syaikh Ahmad Khatib, Syaikh Said al-Yamani, Syaikh Muhammad Marzuk al-Bantani, Syekh Ahmad al-Fathani (lahir 1272 H/1856 M), Mufti Syafi’iyah MekkahSyekh Umar bin Abi Bakar Ba Junaid, Mufti Hanafiyah MekkahSyckh Shalih bin Shiddiq Kamal al-Hanafi, Syekh Shalih bin Muhammad Ba Fadhal al-Hadhrami, dan lainnya.

Meskipun ia lebih memfokuskan pada pengajaran Islam di pesantren dan masyarakatnya, namun para santrinya turut berjuang dalam perang kemerdekaan RI. Menantunya, KHR Makmun Nawawi adalah seorang ulama yang dekat dengan para guru ulama Betawi, bahkan pesantrennya di Cibarusah menjadi tempat pertama latihan Laskar Hizbullah tingkat nasional. Selain itu, ia juga cukup dekat dengan pejuang KHR Abdullah bin Nuh karena sesama murid Ajengan Syatibi.

Tubagus Ahmad Bakri menganut tarekat Tarekat Qadariyyah wa Naqsyabandiyah (TQN). Beberapa santri Tubagus Ahmad Bakri yang menjadi ulama terkemuka diantaranya Abuya Dimyati Banten, KHR. Ma’mun Nawawi Bekasi, KH Raden Muhammad Syafi’i atau dikenal dengan Mama Cijarah Bandung, KH Ahmad Syuja’i atau Mama Cijengkol, KH Izzuddin atau Mama Cipulus Purwakarta.

Ia menghasilkan karya lebih dari 50 judul kitab dan mayoritas kitab tersebut ditulis menggunakan Arab Pegon diantaranya, Cempaka Dilaga : Mertelakeun Perihal Wajib Usaha, Kitab Maslakul Abror tarjamat nadzam ‘iqdud dar, Futuhatut taubah fi Shidqi Tawajuhit Thariqah, Fawaid al-Mubtadi, Maslahat al-Islamiyyah fi Ahkami at-Tauhidiyyah, Ishlah al-Balid fi Tarjamati Qaul al-Mufid, Risalah al-waladiyyah terjemah kitab al-Kharidah al-Bahiyyah, Maslak al-Hal, tanbihul Ikhwan (Kritik atas pemikiran Jamaludin Al-Afghani, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridho), Roihatul Wardiyah, Tanbihul Muftarin, Nashaihul Awam, Risalatul Mushlihat, Tabshiratul Ikhwan, Ihyaul Mayyit, Saif adl-Dlarib, Manhajul Ibad fi Bayani Daf il Fasad, Idlahul Karatoniyyah dan lainnya.

Selain mengarang beberapa kitab berbahasa Sunda untuk mentransmisikan ilmu-ilmunya agar lebih mudah dicerna dan dapat dilakukan, Mama Sempur juga menggelar pengajian keliling seperti halnya Kiai Asnawi Kudus, mengembangkan tradisi lisan. Tentang Arab Pegon dan tradisi lisan ini akan dibahas pada bab-bab berikutnya.

Tradisi ini diteruskan oleh salah satu santrinya, Abuya Dimyati Pandeglang yang juga meneruskan tradisi tarekatnya. Abuya Dimyati bahkan menjalurkan jejaringnya lebih luas lagi melingkar hampir di tanah Jawa.

Selain Abuya Dimyati, di Banten, teman seperjuangan Mama Sempur dan Syekh Hasyim Asy’ari sesama murid Syekh Nawawi al-Bantani, adalah KH Mas Abdurrahman bin Jamal, pendiri Mathlaul Anwar Lil Nahdlatul Ulama (MALNU) yang berpusat di Menes Pandeglang.

(Referensi : Zainul Milal Bizawie, “Masterpiece Islam Nusantara : Sanad dan Jejaring Ulama-Santri, 1830-1945”, Tangerang Selatan : Pustaka Compass, 2016 )

Comments

comments