UINSA Surabaya Bedah Buku Masterpiece dan Mahakarya Islam Nusantara

0
354
SAMSUNG CAMERA PICTURES

Pustakacompass.com, Surabaya – Dalam rangka menyambut Hari Santri Nasional, UIN Sunan Ampel Surabaya membedah dua buku utama Pustaka Compass. Buku “Masterpiece Islam Nusantara” dan buku “Mahakarya Islam Nusantara”.

Bedah buku dan diskusi buku tersebut dihadiri oleh dua penulis masing-masing buku tersebut. Zain Milal Bizawie dan A. Ginanjar Sya’ban. Hadir pula sebagai pembanding, Kh. Muallim dari Fakultas Dakwah UINSA dan Dr. Habib Mustofa (Ketua Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam Fak. Dakwah UINSA Surabaya). Hadir juga Sekjen RMI Jawa Timur, Gus Firdaus bertindak sebagai moderator.

Membuka acara, Dr. Habib Mustofa, membuka acara dengan memuji kedua narasumber dan karyanya. “Dua karya ini cukup fenomenal dan fundamental. Dua narasumber kita ini, punya sanad keilmuan yang tidak terbantahkan dalam sejarah Islam di Indonesia”, katanya.

Ia menambahkan “Gus Milal adalah maskot kita dalam konteks pemikiran Islam di Nusantara. Karena beliau kita bisa memotret sejarah perkembangan Islam. Khususnya keislaman di Pesantren.”

“Sedangkan Kang Ginanjar, Ia mampu memotret manuskrip-manuskrip ulama Nusantara yang jauh dari jaungkauan akademis. Saya kira ini sangat penting bagi mahasiswa UINSA Surabaya”, imbuhnya.

Sementara itu, Zainul Milal Bizawie menjelaskan apa yang diangkat dalam buku Masterpiece Islam Nusantara. “Buku ini lahir tidak lain sebagai juru bicara ulama-ulama Nusantara. Sebuah upaya untuk membangun jalur sejarah, tersambung”, katanya.

Sejarawan yang akrab disapa Gus Milal ini mengibaratkan seperti membangun jalan tol. “Ketika membangun jalan, kita tahu ada hal-hal menarik yang perlu kita lihat dan kaji. Dari sini akan timbul kesadaran sejarah”, ujarnya.

Sejatinya, Indonesia adalah milik para santri. Ketika teman-teman belajar di Sunan Ampel, otomatis menjadi santri Sunan Ampel. Dimana temam-teman memiliki beban tanggung jawab meneruskan perjuangan dan peran beliau.

“Tanggung jawab anda semua untuk mengkaji khazanah, strategi dakwah, peran kuktural, dan perjuangan-perjuangan Ulama santri lainnya yang perlu kita ungkap. Karena sejarah perjuangan ulama-santri terpinggirkan dalam narasi sejarah nasional.” pungkasnya.

SAMSUNG CAMERA PICTURES
Usai bedah buku bersama peserta

Sedangkan A. Ginanjar Sya’ban memaparkan latar belakang penulisan buku “mahakarya” nya. “Berangkat dari keprihatinan Islam di Indonesia itu sering digambarkan Islam pinggiran, tidak aktual, tidak memeiliki karya, dan lain-lain”, tandasnya.

Ginanjar melanjutkan, bahwa beberapa pihak mengklaim bahwa Islam di Nusantara itu banyak mitosnya, ahli bid’ah, syirik.

“Ada juga yang mengatakan, para pendakwah generasi awal seperti walisongo itu fiktif. Cerita yang dikarang karena tidak ada karyanya.”, tandas Direktur Islam Nusantara Center ini.

Untuk itu, Ginanjar menegaska, Islam di Nusantara hampir sejajar dengan Islam di belahan dunia lainnya. Karena karya-karya Ulama itu luar biasa. Menjadi rujukan ulama-ulama dunia.

Santri jebolan Lirboyo ini menyayangkan, Generasi muslim saat ini cenderung abai, atau cuek dengan sejarahnya sendiri. “Banyak karya yang tersebar di perpustakaan dunia. Kita kurang peduli, apalagi mengkajinya”, tandasnya.

Acara ini diselenggarakan oleh UIN Sunan Ampel Surabaya, atas kerjasama dengan RMI wilayah Jawa Timur. Dihadiri ratusan mahasiswa UINSA Surabaya.

Bedah buku ini merupakan bagian dari rangkaian Road Show bedah buku “Mahakarya Islam Nusantara” bersama A. Ginanjar Sya’ban dan Zainul Milal Bizawie, di 12 titik Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Beberapa tempat yang akan menjadi tujuan berikutnya antara lain STAI Al Fitrah, UIN Maliki Malang, PC. RMI NU Tulungagung, PP HM Mahrusiyyah Lirboyo Kediri, IAIN Surakarta, PP. Salafiyah Kajen Pati, STIBI Syekh Jangkung Pati, STAIN Kudus, Universitas Semarang, dan PP. Ashabul Kahfi Kendal.(Ridho).

Comments

comments